
PERPUSTAKAAN STPN

| Pengarang | HABILL FAIRUZ |
| Penerbit | KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/ BPN POLITEKNIK AGRARIA STPN |
| Tempat Terbit | Yogyakarta |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Bahasa | Indonesia |
| ISBN/ISSN | - |
| Kolasi | xiii, 92 hlm. ; ilus. ; 30 cm |
| Subjek | Urban Sprawl,Perubahan Penggunaan Lahan,Keberlanjutan Pariwisata,GSTC,Kecamatan Kuta Utara |
| Media | Skripsi |
| Abstrak | |
Urban sprawl merupakan fenomena perluasan kawasan perkotaan yang ditandai dengan meningkatnya kawasan terbangun ke wilayah pinggiran. Kecamatan Kuta Utara sebagai wilayah penyangga Kota Denpasar dan kawasan pariwisata utama di Kabupaten Badung mengalami perkembangan yang pesat akibat meningkatnya aktivitas pariwisata, investasi, dan pertumbuhan pendadak. Perkembangan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap keberlanjutan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola urban sprawl di Kecamatan Kuta Utara dan menganalisis dampak arban sprawi terhadap keberlanjutan pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode mixed method dengan model sequential explanatory, yaitu menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan citra satelit Landsat tahun 2015 dan 2025 melalui metode Supervised Classification (Maximum Likelihood) untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan, kemudian dianalisis menggunakan buffer jalan untuk mengidentifikasi pola ribbon development serta overlay peta tutupan lahan untuk mengidentifikasi pola Icapfrog development. Analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara sermiterstruktur dengan instansi terkait dan masyarakat, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Analisis dampak terhadap keberlanjutan pariwisata mengacu pada indikator Global Sustainable Tourism Council (GSTC) yang meliputi aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan terbangun meningkat dari 1.271,61 ha pada tahun 2015 menjadi 1.638,63 ha pada tahun 2025, sedangkan lahan non terbangun menurun dari 2.114.39 ha menjadi 1.747,37 ha. Pola urban sprawl yang terbentuk didominasi oleh ribbon development, yaitu perkembangan kawasan terbangun yang mengikuti koridor jaringan jalan utama, serta leapfrog development, yaitu munculnya kawasan terbangun baru yang tersebar, terutama di Desa Canggu, Desa Tibubeneng, dan Desa Dalung. Hasil analisis dampak menunjukkan bahwa urban sprawl memberikan dampak positif pada aspek ekonomi melalui meningkatnya kesempatan kerja, namun berdampak negatif terhadap aspek sosial budaya berupa menurunnya kenyamanan dan keamanan masyarakat, serta pada aspek lingkungan berupa menurunnya kebersihan lingkungan akibat meningkatnya volume sampah dan limbah yang belum dikelola secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa urban sprawl di Kecamatan Kuta Utara belum sepenuhnya mendukung keberlanjutan pariwisata. Meskipun memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, perkembangan kawasan terbangun yang tidak dumbangi dengan pengelolaan lingkungan dan sosial budaya berpotensi menurunkan kualitas destinasi wisata. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian pemanfaatan ruang, penguatan pengelolaan lingkungan, serta penerapan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan untuk menjaga keberlanjutan pariwisata di Kecamatan Kuta Utara. | |
| Nomor Rak | 700 - D | ||||||
| Nomor Panggil | 711 Hab D | ||||||
| Lokasi | Ruang Referensi | ||||||
| Eksemplar | 1 | ||||||
PENCARIAN RFIDPencarian koleksi menggunakan RFID akan membantu mempercepat menemukan koleksi di rak buku. Gunakan fitur ini jika mengalami kesulitan dalam menemukan koleksi di rak buku. Untuk menggunakan fitur ini silahkan klik salah satu Tombol Pesan diatas kemudian hubungi Petugas Pelayanan Sirkulasi dengan menyebutkan Judul Bukunya. | |||||||