
PERPUSTAKAAN STPN

| Pengarang | FADLIYATUL MARDIYATIN |
| Penerbit | KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BADAN PERTANAHAN NASIONAL SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL |
| Tempat Terbit | Yogyakarta |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Bahasa | Indonesia |
| ISBN/ISSN | - |
| Kolasi | xv, 124 hlm. ; ilus. ; 30 cm |
| Subjek | Ruang Terbuka Hijau,Koridor Hijau,Surabaya |
| Media | Skripsi |
| Abstrak | |
KTH menjadi paru-paru kota yang memproduksi oksigen, mengurangi polusi udara. mencegah banjir dan sarana sosialisasi masyarakat. Surabaya mengalami urbanisasi sebagaimana torbukti dengan kepadatan penduduk sebesar 8.995 jiwa/km² pada tahun 2005 dan memerlukan penyediaan KTH yang cukup dan layak, khususnya RTH publik yang dapat diakses oleh semua kalangan. Penyediaan RTH publik di Kota Surabaya bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitasnya berdasarkan 3 aspek yaitu aspek lingkungan ekologis, sosial dan ekonomi. Oleh karena itu dibutuhkan peran serta dari berbagai pihak yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik (luas, jumlah, jenis, bentuk). perubahan, dan pola sebaran Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di Kota Surabaya pada tahun 2007, 2014, 2021 dan 2026 faktor-faktor yang mempengaruhi belum optimalnya kualitas fungsi RTH publik di Kota Surabaya serta arahan pembentukan jaringan jalur koridor hijau (green corridor) untuk meningkatkan konektivitas RTH publik di Kota Surabaya. Metode penelitian ini menggunakan metode campuran Hasil penelitian menunjukkan karakteristik RTH publik yaitu luas RTH publik dan jumlah poligon mengalami peningkatan pada rentang waktu 2007-2026 yang terdiri dari 3 jenis RTH publik dengan 13 bentuk. Pola sebaran perubahan RTH publik secara global adalah mengelompok (clustered) yang didapatkan dari analisis autokorelasi spesial dengan nilai indeks Moran's I sebesar 0,068382. Sedangkan secara lokal terdapat 2 kluster yaitu khuster High-High (HH) terdiri dari Kecamatan Pakal, Benowe, Sukolilo, Rungkut dan kluster Low-Low (LL) terdiri dari Kecamatan Centerng. Faktor-faktor yang mempengaruhi belum optimalnya kualitas fungsi RTH publik berdasarkan Permen PU No. 5 Tahun 2008 adalah fisikJekalogis, sosial dan ekonomi. Faktor ekonomi merupakan faktor kunci dalam mengoptimalkan kualitas fungsi RTH karena terkait sumber pendanaan KTH publik untuk penyediaan, pengolahan maupun pengawasannya. Sehingga diperlukan peningkatan sumber pendanaan yang awalnya hanya dominan berasal dari APBD saja dapat ditingkatkan juga melalui CSR dan KIBU. Terdapat 3 arahan utama pembentukan jaringan jalur koridor hijau yang berfungsi untuk meningkatkan konektivitas antar RTH publik di Kota Surabaya. Total luas jaringan jalur koridor hijau yang terbentuk adalah seluas 3.623.54 ha terdiri dari 2.406 poligon dengan tipologi berupa jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi, jalur pejalan kaki, median jalan, pulau jalan, RTH sempadan pantai, RTH sempadan rel kereta api, RTH sempadan sungai dan sabuk hijau. | |
| Nomor Rak | 330 - A | ||||||
| Nomor Panggil | 333.31 Fad A | ||||||
| Lokasi | Ruang Referensi | ||||||
| Eksemplar | 1 | ||||||
PENCARIAN RFIDPencarian koleksi menggunakan RFID akan membantu mempercepat menemukan koleksi di rak buku. Gunakan fitur ini jika mengalami kesulitan dalam menemukan koleksi di rak buku. Untuk menggunakan fitur ini silahkan klik salah satu Tombol Pesan diatas kemudian hubungi Petugas Pelayanan Sirkulasi dengan menyebutkan Judul Bukunya. | |||||||