
PERPUSTAKAAN STPN

| Pengarang | Pudentia MPSS |
| Penerbit | Yayasan Pustaka Obor Indonesia |
| Tempat Terbit | Jakarta |
| Tahun Terbit | 2025 |
| Bahasa | Indonesia |
| ISBN/ISSN | 978-623-321-332-5 |
| Kolasi | xvi,310 hlm.: ilus.; 21 cm |
| Subjek | Sastra |
| Media | Novel |
| Abstrak | |
Buku ini disusun sebagai salah satu tanggung jawab Indonesia yang telah mengusulkan pantun sebagai joint nomination / nominasi bersama Malaysia. Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dunia yang telah ditetapkan UNESCO pada tanggal 17 Desember tahun 2020. Karena itu, tanggal 17 Desember telah diusulkan sebagai Hari Pantun Indonesia. Kehadiran buku ini juga diharapkan dapat memperkuat pengusulan tersebut. Pembahasan pantun dalam buku ini dilihat dari berbagai perspektif tentang pantun sebagai warisan budaya yang masih hidup dan berkembang di Asia Tenggara. Pembahasan itu meliputi pantun yang berperan sebagai media ekspresi lisan yang abadi dan sebagai bagian dari poetika kognitif budaya lisan Melayu. Pantun juga mencerminkan pemikiran masyarakat Melayu dalam aspek estetika dan etika serta penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu di Riau. Selain aspek budaya, buku ini juga menggali hubungan pantun dengan alam dan falsafah kehidupan. Pantun Melayu merefleksikan kebijaksanaan alam dan unsur lingkungan dalam pantun setiap suku Melayu yang ada di Asia Tenggara. Konsep kolektivitas dan kemanusiaan dalam pantun Melayu menunjukkan bahwa pantun bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran nilai-nilai sosial. Oleh sebab itu, pantun terus berkembang di negeri-negara di Asia Tenggara dan tetap relevan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat hingga saat ini. Dengan kondisi yang seperti itu pantun Melayu perlu terus dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan. Pantun perlu digalakkan dalam sistem Dendidikan dengan cara mengintegrasi pantun dalam kurikulum pendidikan dan dapat diperkenalkan kepada anak-anak dan remaja tentang keindahan, milai-nilai moral dan etika yang terkandung dalam pantun. Media sosial dan eknologi digital perlu dimanfaatkan. Begitu juga aplikasi, video interaktif, serta festival pantun untuk dapat meningkatkan daya tarik pantun bagi generasi muda. Pemerintah dan Kementerian Kebudayaan, serta lembaga Denelitian perlu mendukung penelitian serta kolaborasi lintas negara untuk mempertahankan pantun sebagai identitas budaya Asia Tenggara. Dengan strategi ini, pantun diharapkan akan tetap hidup, dan berkembang sesuai Mengan dinamika zaman tanpa kehilangan nilai aslinya. | |
| Nomor Rak | 800 - P | ||||||
| Nomor Panggil | 899.221 3 Pud P | ||||||
| Lokasi | Ruang Baca | ||||||
| Eksemplar | 1 | ||||||
PENCARIAN RFIDPencarian koleksi menggunakan RFID akan membantu mempercepat menemukan koleksi di rak buku. Gunakan fitur ini jika mengalami kesulitan dalam menemukan koleksi di rak buku. Untuk menggunakan fitur ini silahkan klik salah satu Tombol Pesan diatas kemudian hubungi Petugas Pelayanan Sirkulasi dengan menyebutkan Judul Bukunya. | |||||||